长孙臻犭
2019-05-23 12:16:03
2017年4月21日下午3:33发布
2017年4月21日下午3:34更新

Ketua Umum HIPPI Yani Motik(kanan)saat menjadi pembicara di acara Hari Kartini di Go-Work,雅加达,pada 2017年4月21日。摄影oleh Rika Kurniawati / Rappler

Ketua Umum HIPPI Yani Motik(kanan)saat menjadi pembicara di acara Hari Kartini di Go-Work,雅加达,pada 2017年4月21日。摄影oleh Rika Kurniawati / Rappler

印度尼西亚雅加达 - Tugas seorang perempuan bukan hanya menjadi ibu rumah tangga。 Bahkan,meski bekerja 全职 sebagai ibu rumah tangga,tapi para perempuan juga bisa berkarya sebagai pengusaha dari rumah。

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia(HIPPI),Suryani Sidik Motik,dalam acara jejaring pemimpin perempuan bertajuk“Integrasi Perempuan dan Teknologi Untuk Indonesia Yang Lebih Sejahtera”yang diadakan oleh Rappler di Jakarta,pada Jumat,4月21日。

Sosok yang akrab disapa Yani Motik itu mempertanyakan bagaimana anggaran dari pemerintah tidak kurang adil bagi para pengusaha- pengusaha perempuan。

“Saya di sini mewakili usaha kerja menengah(UKM)yang ada,dan tahukah kalian,bahwa ternyata 80 persen pemilihan barang dilakukan oleh perempuan?”kata Yani。

“Laki-laki itu tidak percaya diri,tapi sayangnya kita hanya menikmati 1 persen dari hal itu。 Entah kesalahannya di mana,tapi ini tidak adil,“ujarnya。

Oleh karena itu,Yani meminta kepada para perempuan Indonesia,untuk mulai berani menggunakan nama mereka untuk membangun usaha,bukan atas nama suami mereka。

Ia memberi contoh Rumah Makan Ayam Goreng Suharti。 Kasus ini,menurutnya,merugikan kaum perempuan di mana ibu sang pemilik resep harus kehilangan kerja kerasnya setelah bercerai,karena menggunakan nama suami untuk membuka usaha。 -Rappler.com

BACA JUGA: